Si Wanita Kafir dan si Tuli

Melalui pembacaan hari ini Tuhan Yesus mengajari tentang fokus.

Yesus fokus kepada tugas – Nya, yaitu bahwa Dia diutus oleh Bapa untuk melayani Israel. Memang semua bangsa di bumi akan diberkati juga, tetapi setelah Injil dinyatakan dan pekerjaan Tuhan diselesaikan dulu di antara orang Israel.

Untuk itulah Tuhan Yesus “seakan” menolak si wanita kafir.

Tetapi si wanita Yunani itu tidak menyerah dan terus memohon, bahkan mengiakan diri sebagai anjing. Ini menunjukkan kerelaannya untuk merendahkan diri. Dia juga memiliki iman untuk memohon kasih karunia dari Yesus dengan mengatakan “anjing meminta remah – remah roti yang dijatuhkan oleh anak – anak”.

Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”

Ayat 27, 28, 29

Yesus mengasihi semua manusia, Dia hanya ingin wanita itu memberi kesaksian mengenai iman dan merendahkan diri.

Maka Dia pun mengabulkan permintaan si Ibu sehingga anaknya terbebas dari roh jahat. Disini kita belajar bahwa Allah berbelas kasihan kepada orang beriman yang merendahkan diri. Bukan hanya itu, Tuhan Yesus tentunya bersikap tegas, sehingga tidak semua orang Yunani dan Siro Fenisia datang kepada – Nya. Hanya mereka yang benar – benar beriman dan mau merendahkan diri.

Jadi Tuhan Yesus tetap fokus kepada tugasnya, tetapi juga mengasihi.

Kasus kedua adalah si tuli dan gagap.

Ini kasus yang menurut banyak orang mustahil. Orang banyak sedang menyaksikan saat itu, dan saya pikir mereka beriman. Dan Tuhan Yesus mampu menyembuhkan si tuli dari jauh hanya dengan berpikir, atau berbicara saja.

Lalu kenapa Tuhan memisahkan si penyakitan ini dari orang banyak, lalu meraba – raba telinga dan lidahnya?

Tuhan tidak ingin orang menghalangi Dia menyebarkan injil dan melayani.

Jika Yesus hanya berbicara dari jauh, tidak melakukan drama, orang akan makin kagum atas penyembuhan – Nya. Semua orang penyakitan akan berdesak – desakan datang kepada Dia. Akhirnya Yesus dan para murid tidak bisa makan, minum, tidur, berdoa, apalagi melakukan pelayanan.

Makanya Dia melarang mereka untuk menceritakan mujizat – mujizat hebat – Nya.

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga.

Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Ayat 36, 37

Ayat untuk direnungkan :

Markus 1 ayat 43, 44, 45 :

Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Semoga kita juga bisa fokus dalam tugas dan pelayanan kita, tetapi tidak menghilangkan kasih.

ハレルーヤ。

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.